Peran dan Pengaruh Siddharta Gautama dalam Sejarah Peradaban Manusia

 

Biografi Siddhartha Gautama (Gautama Buddha)

SEMANGATTTTTTTT!!!!

Buddha merupakan suatu agama yang memiliki banyak pengikut di seluruh dunia. Agama ini lahir dan mulai berkembang pada abad ke 6 SM. Adapun namanya diambil dari nama pendirinya, Sidharta Gautama (563- 483 SM) yang lebih terkenal dengan panggilan Buddha. Buddha Gautama dilahirkan nama Siddharta Gautama yang lahir di Taman Lumbini di kaki Gunung Himalaya, India bagian Utara pada 623 masehi. Nama Siddharta berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti orang yang mencapai segala cita-citanya. Sedangkan Gautama berasal dari leluhur yang merupakan guru terkenal (Welianto, 2020). Dalam buku Guru Agung Buddha Gautama (Sihotang, 2012) , Siddharta merupakan putra raja dan disebut sebagai Pangeran. Ayah Siddharta bernama Suddhodana yang berasal dari suku Sakya, anggota dari Kelas Khasatria adalah seorang raja di Kota Kapilavastu Jambudwipa. Sementara ibunya bernama Mahamaya. Saat Siddharta lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddharta. Siddharta lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijak nya ditumbuhi bunga teratai.




         Sejak kecil Siddharta Gautama adalah anak yang cerdas dan sangat pandai. Pada usia 7 tahun, Siddharta memiliki tiga kolam bunga teratai, yakni kolam bunga teratai berwarna biru (uppala), kolam bunga teratai berwarna merah (paduma), dan kolam bunga teratai berwarna putih (pundarika). Pada usia itu, Siddharta sudah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan denga baik. Pada usia 16 tahun, Siddharta menikah dengan Putri Yasodhara. Pada usia itu juga, Pangeran Siddharta memiliki tiga istana, yakni, Istana Musim Dingin (Ramma) Istana Musim Panas (Suramma), dan Istana Musim Hujan (Subha). Saat Siddharta lahir, ayahnya bertanya kepada peramal bernama Asita mengenai masa depannya. Sang peramal merasa terpesona ketika melihat Siddharta. Peramal melihat 32 tanda pada tubuh sang bayi yang merupakan pertanda tentang kehidupan yang agung di masa depan. Peramal mengatakan kepada raja bahwa anak itu mungkin akan menjadi pemimpin yang sangat hebat. Mungkin juga menjadi Chakrawarti (maharaja) seluruh India, kalau saja anak tersebut menguasai kearifan mengenai cara-cara duniawi.

         Apabila anak tersebut bisa menjalani kehidupan religius, maka tanda yang sama juga memperlihatkan bahwa akan dengan mudah menjadi pertama yang mulia. Ketika hal itu dihubungkan dengan keturunannya yang mulia, maka mungkin bisa menjadi penyelamat dunia. Peramal juga menyatakan penyesalannya bahwa anak tersebut tidak akan bisa hidup cukup lama untuk mendapatkan manfaat dari kebijaksanaan penuh yang tumbuh dalam diri anak yang agung ini. Kata-kata peramal membuat Raja Suddhodana merasa was-was dan tidak tenang. Raja khawatir jika Siddharta akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa. Raja lebih memilih anaknya untuk mewarisi kekuasaannya sebagai raja, bukannya menjadi pertapa.

         Ada empat hal yang tidak boleh dilihat oleh Pangeran Siddharta Gautama, yakni orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa. Bila tidak, Siddharta akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Pada suatu hari, Siddharta minta ijin untuk berjalan keluar istana. Di jalanan Kapilavastu menemukan empat kondisi yang berarti, yakni orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa. Ia merasa sedih dan bertanya pada diri sendiri. Tidak ada hal yang mempersiapkan untuk pengalaman semacam itu selama hidupnya. Ia berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban itu. Pada usia 29 tahun, Siddharta memutuskan meninggalkan istana, istri dan anaknya yang baru lahir. Ia pergi untuk menjadi seorang pertapa yang bertujuan menemukan cara buat menghilangkan penderitaan atau membebaskan manusia dari usia tua, sakit, dan mati. Perjuangan Siddharta dalam memaknai kehidupan dan mengupayakan terciptanya bangunan spiritualitas yang paripurna merupakan perjuangan yang berangkat dari hati nurani dan akal budi. Siddharta, kemudian bermeditasi menggunakan berbagai guru spiritual yang membimbingnya. Ia bermediasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan penerangan Agung. Penderitaan Siddharta ketika meninggalkan untuk hidup dan belajar bersama para pertapa Hindu, merupakan suatu petualangan spiritual yang menakjubkan. Setelah enam tahun, konon beliau mendapatkan kenyataan bahwa bertapa dengan menyiksa diri maupun hidup terlalu berfoya-foya. Bukanlah jawaban akan sesuatu hal yang mampu melampaui penderitaan dan karma.

Pemikiran seperti itu dianggap menyimpang dari aliran Hindu pada masa itu sehingga ia pun mengembara ke sebelah selatan India untuk mencari prinsip-prinsip spiritual yang dapat membentuk fondasi Buddhisme. Pada akhirnya di bawah pohon Bodhi, ia memperoleh apa yang dicita-citakannya, yakni ajaran tentang sebab akibat penderitaan dan cara-cara mendapatkan kelepasan yang tersimpul dalam pandangan filosofis. Pertapa Siddharta telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Siddhi di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun. Saat mencapai pencerahan sempurna, tubuh Siddharta memancar enam sinar Buddha dengan warna biru (nila) yang berarti bhakti, kuning (pita) yang berarti kebijaksanaan dan pengetahuan. Warna merah (lohita) yang berarti kasih sayang dan belas kasih, putih (Avadata) mengandung arti suci, jingga (mangasta) berarti semangat, dan dan campuran sinar tersebut (prabhasvara).

Buddha Gautama mendapat gelar setelah mencapai pencerahan sempurna, seperti Buddha Gautama, Sakyamuni, Tathagata (Ia Yang Telah Datang, Ia Yang Telah Pergi), Sugata (Yang Maha Tahu), Bhagava (Yang Agung). Setelah itu sang Buddha menyampaikan khotbah pertamanya di Taman Rusa, Isipatana, Sarnath kepada lima pertapa yang dulu menjadi rekan saat bertapa menyiksa diri. Selama 45 tahun, ia menyampaikan khotbahnya demi kebahagiaan umat manusia hingga memasuki Maha Parinibbana di Kusinara pada usia 80 tahun. Ia menyadari bahwa tiga bulan setelahnya akan mencapai Parinibbana atau Parinirvana yaitu meninggalkan bentuk fisik tubuhnya. Isi khotbahnya adalah penjelasan mengenai Jalan Tengah yang ditemukannya, yaitu berupa Delapan Ruas Jalan Kemuliaan dan juga Empat Kebenaran Mulia yang menjadi pilar dari ajaran Buddha. Dilansir dari (Nasr, 1989) , Buddha merupakan salah satu dari banyak julukan seorang guru yang tinggal di India utara sekitar abad ke-6 dan ke-4 sebelum era Bersama. Para pengikutnya, yang dikenal sebagai umat Buddha, menyebarkan agama yang sekarang dikenal sebagai agama Buddha. Gelar buddha digunakan oleh sejumlah kelompok agama di India kuno dan memiliki banyak makna. Tetapi kemudian dikaitkan dengan sangat kuat dengan tradisi agama Buddha dan berarti makhluk yang tercerahkan, orang yang telah terbangun dari tidurnya ketidaktahuan dan mencapai kebebasan dari penderitaan.

DAFTAR PUSTAKA

Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the Sacred. New York: State University of New York Press.

Sihotang, D. P. (2012). Mengenal Sosok Siddharta Gautama dan Ajaran-ajarannya. Jakarta: PT Balai Pustaka (Persero).

Welianto, A. (2020, May 07). Biografi Siddharta Gautama, Pendiri dan Penyebar Agama Buddha. Retrieved March 19, 2021, from https://www.kompas.com/skola/read/2020/05/07/080000869/biografi-siddharta-gautama-pendiri-dan-penyebar-agama-buddha?page=all.

 



 





Ide atau gagasan pemikiran Siddharta Gautama dan relevansi terhadap kehidupan saat ini


Buddha dipercaya sebagai seorang yang sudah mengalami spiritual pribadi yang tercerahkan. Sebagai seorang Buddha, Siddharta Gautama memberikan banyak dampak pada kehidupan kala itu dengan pemikiran-pemikirannya yang dirampungkan sebagai pengajaran baru mengenai sebuah agama. Yang ditekankannya adalah agar lebih mengandalkan upaya dan pengalaman sendiri untuk mencapai pencerahan dalam Bodhisattva (Stokes, 2001). Pencerahan didapat dari proses meditasi atau pertapaan sehingga setiap pribadi dapat dengan usahanya sendiri untuk mencapai pencerahan tersebut. Proses mencapai pencerahan menjadikan seseorang menjadi lebih matang secara spiritual yang tenang dan moralitas yang bajik secara pribadi.  

Setelah mendapatkan pencerahan, Buddha Gautama memberikan pengajaran-pengjaran kepada banyak orang lainnya. Pengajaran ini dikenal dengan penyebutan Dhamma atau Dharma. Dhamma bukan saja keseluruhan pengajaran Buddha, melainkan seluruh jalan moral dan rohani, yang di temukan dan diwahyukan (Toharuddin, 2016).  Dapat dikatakan bahwa Dhamma ini merupakan sebuah dasar atau tolak ukur dalam berperilaku bajik sehingga seseorang dapat mencapai titik kebahagian dan kedamaian. Ajaran Buddha sesuai Dhammapada syair 122: “Jangan meremehkan kebajikan walaupun kecil dengan berkata: “Perbuatan bajik tidak akan membawa akibat” bagaikan tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan.” Dari pengajaran Dhammapada ini, Buddha Gautama berfokus pada pemikiran mengenai perilaku bajik serta mengenai adanya proses tanam-tuai dalam berprilaku (karma).

Benang merah yang dapat ditemukan dari pemikiran-pemikiran Siddharta Gautama ini mengarah pada pencapaian titik kebahagiaan dan kedamaian. Kebahagiaan sejati menurut ajaran Buddha  hanya dapat dicapai ketika seseorang melenyapkan kebencian, keserakahan (kemelekatan) dan kebodohan batin sampai ke akar-akarnya (Wijaya, 2008). Kebahagiaan dan kedamaian yang diharapkan dari pemikiran Siddharta Gautama dapat dicapai apabila manusia dapat berperilaku sesuai pengajaran Dhamma dan melalui proses pencerahan. Beliau menyadari bahwa semua hal yang terjadi dalam masyarakat sosial, dimulai dari diri sendiri (Wijaya, 2008) sehingga seluruh pencapaian kebahagiaan dan kedamaian harus dimulai dari perkembangan proses spiritual dan moralitas pribadi.  

Banyaknya gagasan pemikiran yang diajarkan Buddha Gautama memberikan dampak besar bagi kehidupan manusia dalam berpikir dan berperilaku. Tentu saja, ada banyak umat Buddha yang mencoba untuk mengikuti teladan utama sang Buddha untuk bermeditasi dengan kedisiplinan dan pengetahuan sehingga mencapai pencerahan (Kohn, 2018). Manusia mulai menyadari bahwa pentingnya bermeditasi atau bertapa dalam mencapai titik kebahagiaan dan kedamaian. Eksistensi meditasi saat ini tidak dapat diabaikan karena proses meditasi ini sudah banyak berkembang dalam kehidupan manusia (bahkan yang bukan pengikut Buddha) seperti kegiatan olahraga (yoga dan pilates) dan penyembuhan (penyakit psikologis).

Sang Buddha menunjukkan dengan teladan dirinya sendiri, bahwa seorang individu mampu mencapai ketinggian spiritual sehingga pikiran menjadi terbuka, dan menjadi mengerti mengenai kebenaran dalam seluruh realitas (Stokes, 2001). Pada poin ini, pemikiran dari Buddha Gautama berdampak pada kehidupan manusia yang semakin realistis dalam berfikir dan berperilaku. Ketika diperhadapakan dengan sebuah keadaan, manusia akan dituntut untuk melihat kebenaran yang ada secara personal (baik secara objektif atau subjektif), sehingga dapat berfikir dan berperilaku yang sesuai dengan keadaan yang ada melalui tolak ukur pencapaian kebahagiaan dan kedamaian. Tentunya tolak ukur pencapaian kebahagiaan dan kedamaian tersebut dapat dilihat pada pengajaran Dhamma yang membutuhkan upaya dan juga terus mengevaluasi diri (Abhayanando, 2014) sehingga menjadi pribadi yang lebih matang secara spiritual dan moralitas. Pokok-pokok pemikiran Dhamma berdampak bagi perspektif keseluruhan kehidupan manusia karena pengajaran Dhamma ini bersifat umum dan realistis untuk diterima oleh logika manusia (bahkan di luar pengikut Buddha). Pokok pemikiran yang sangat berkembang saat ini dari pemikiran Buddha Gautama adalah proses meditasi dan berfikir realistis terhadap kebenaran akan berbuat baik untuk mendapatkan buah yang baik (begitu juga sebaliknya dengan perbuatan jahat) demi kebahagiaan dan kedamaian atau yang lebih dikenal dengan konsep karma maupun konsep sebab-akibat.


 

Bibliography

Abhayanando. (2014, Oktober 05). Berpikir Bijak Menghadapi Kehidupan. Retrieved from Dhammacakka: https://dhammacakka.org/?channel=ceramah&mode=detailbd&id=534

Kohn, S. C. (2018). BUDDHA SEBUAH BIOGRAFI NARATIF. (E. Oktaviani, Trans.) Yogyakarta: Basabasi.

Stokes, G. (2001). Seri Siapa Dia: Buddha. (F. Kowa, Trans.) Jakarta: Erlangga.

Toharuddin. (2016). Konsep Ajaran Buddha Dharma tentang Etika. Intelektualita, 189-194.

Wijaya, W. Y. (2008). Pandangan Benar: Jalan Mulia Berunsur Delapan. Yogyakarta: AB.

 

 


 

 

 

Perspektif Kristen terhadap peran dan pengaruh Siddharta Gautama dalam kehidupan peradaban manusia.

 

Siddharta Gautama merupakan salah satu tokoh sejarah dunia yang juga sangat berperan dan berpengaruh besar dalam kehidupan manusia khususnya dalam hal beragama. Beliau memiliki peran yang sangat penting dan juga pengaruh yang besar dalam kehidupan agama Buddha. Siddharta Gautama merupakan asas dari berdirinya agama Buddha, bahkan nama  sebenarnya dari Buddha  itu sendiri adalah  Siddharta,  dan  Gautama  adalah  nama  keluarga. Oleh sebab itu, hakikat dari Buddha itu sendiri awalnya berasal dari kisah beliau. Konon Sindharta merupakan seorang anak raja yang diberikan kekuasaan besar untuk dapat melanjutkan kekuasaan kerajaannya. Siddhudan yang merupakan ayahnya, menyediakan segala apa yang diperlukan oleh Siddharta dalam kerajaan. Akan tetapi, Siddharta memutuskan untuk keluar dari istana  dan melihat kehidupan rakyat yang ada di sekitar istananya karena beberapa peristiwa yakni orang yang menderita sakit, mayat yang diusung ke tempat pembakaran, orang tua yang lemah serta rahib/sami  yang  warak atau biksu yang saleh. Segala peristiwa yang telah dilihat oleh Sidharta itu memberikan kesan yang besar terhadap kehidupannya. Siddharta kemudian lebih banyak berpikir mengenai puncak kesengsaraan tersebut dan bagaimana terbebas dari kesengsaraan. Kemudian, dia memutuskan untuk keluar dari istana dan terus mencari jawaban dari persoalan tersebut. Singkat cerita, ituah yang asal usul dari kelahiran agama Buddha, dimana Siddharta kemudian berjaya karena telah memperoleh jawabannya dengan mendapatkan kesadaran atau cahaya kebenaran semasa bermeditasi. Sehingga Beliau kemudian dikenali dengan gelar Buddha yang berarti orang yang memperoleh kebenaran.  Akan tetapi. Siddharta sendiri tidak  pernah  berbicara  tentang  Tuhan,  namun  akhinya  dia  sendiri  yang dianggap  memiliki  unsur  ketuhanan  oleh  para  pengikutnya  selepas   itu (Yahya & Yaacob, 2020).

Hakikat kemunculan agama buddha yang diasaskan oleh Siddharta sebenarnya suatu  pengalaman  pengembaraan  pertapaan  manusia  yang  inginkan  jawaban  terhadap  hakikat  kehidupan  di  dunia  ini. Usaha Siddharta yang terus mencari jawaban atas “penderitaan” yang dialaminya justru melahirkan sebuah paham moral yaitu “Karma”. Melalui percakapan Yesus dengan Buddha dalam buku The Lotus and The Cross (Teratai dan Salib) menjelaskan adanya hukum moral yang dipercayai oleh Buddha yakni “Sebab akibat”, Buddha mempercayai bahwa moral tersebut tidak ada hubungannya dengan Allah ataupun setan, sehingga keberadaan keduanya itu tidaklah penting baginya. Jadi, Buddha tidak mempercayai adanya Tuhan, akan tetapi Siddharta kemudian di yakini sebagai Tuhan oleh paradan cara hidup yang dilakukan sekarang menuntut pertanggungjawaban sehingga hanya ada dua pilihan atas keberadaan manusia yakni membayar hutang atau melunasinya. Sehingga perbuatan baik dan buruk akan diperoleh pada masa kelahiran kembali. Sehingga mereka lebih mengagaskan agama dan cara hidupnya yang sebenarnya tidak memiliki kebenaran yang hakiki (Zacharias, 2001). Melihat pengaruh besar Siddharta Gautama dalam melahirkan agama Buddha ini tentu sangat bertolak belakang dari pandangan Kristen. Buddha yang tidak menyakini keberadaan Tuhan meskipun menyakini ketuhanannya kepada Siddharta Gautama (Sang Maharaja Dunia) sedangkan kristen mempercayai adanya Tuhan yaitu Yesus Kristus yang menjadi Juruselamat (telah berkorban menghapus dosa manusia). Umat Kristiani percaya bahwa satu-satunya raja diatas segala raja itu adalah Yesus Kristus. Selain itu, apa yang diperbuat di dalam dunia itu hanyalah buah dari keselamatan yang telah di peroleh bukan bertujuan untuk memperoleh keselamatan.

 

Salah satu fakta sejarah yang mencatat pengaruh serta peran Siddharta Gautama terhadap dunia adalah keberadaannya agama Buddha yang masih ada hingga saat ini bahkan diterima sebagai salah satu agama kepercayaan oleh berbagai negara. Siddharta sebagai fitur utama kelahiran agama Buddha yang masih ada sampai saat ini yang berkembang di India pada abad ke-6 sebelum masehi dan sudah tersebar di seluruh negara di dunia seperti Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietman, Nepal, China dan termasuk Indonesia.  Keberadaan agama Buddha saat ini dapat dilihat dari Prasasti peninggalan masa Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi (Lembing, 2020).

 

References

Lembing, C. O. (2020, Juli 07). Jejak Agama Peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Retrieved from Kompas.com: https://www.kompas.com/skola/read/2020/07/07/183000869/jejak-agama-peradaban-hindu-buddha-di-nusantara

Yahya, S., & Yaacob, N. (2020). Budaya Pemakaian dan Pemakanan Masyarakat Cina Buddha di Malaysia: Suatu Analisis. RABBANICA, 1, 158-159.

Zacharias, R. (2001). The Lotus and The Cross - Teratai dan Salib Percakapan Yesus dengan Buddha. Multnomah Publishers, Inc.

 

 


Komentar